Pages

Senin, 31 Januari 2011

BENDUNGAN MUARA JULOI

LATAR BELAKANG
Bendungan Muara Juloi dimaksudkan untuk upaya penyelesaian masalah Pengelolaan sumber air. Dimana dengan dibangunnya bendungan untuk menampung kelebihan air dimusim hujan, dimungkinkan untuk membangkitkan energi listrik, pengendalian banjir dengan meredam debit banjir di dalam waduk, ketersediaan air baku untuk musim kemarau, upaya konservasi sumber daya air dan stabilisasi dasar sungai untuk navigasi.

GAMBARAN WILAYAH
Karakteristik alam Kabupaten Murung Raya dengan luas wilayah sekitar 23.700 km², didominasi oleh pegunungan dan perbukitan, hulu sungai, dan riam-riam. Kondisi topografi yang demikian antara lain menyebabkan udaranya terasa dingin dan agak lembab dengan curah hujan rata-rata sekitar 3.000 mm per tahun. Temperatur udara rata-rata berkisar 22º-35ºC, dengan kelembaban nisbi rata-rata 85%.
Fungsi kawasan di bagian Utara wilayah ini menjadi sangat penting, terutama sebagai hamparan emas hijau hutan hujan tropis yang masih asli dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, juga sebagai menara air (water reservoir) bagi sungai-sungai utama di wilayah Kalimantan, khususnya Sungai Barito yang memiliki panjang mencapai 900 km.
Pada umumnya Kabupaten Murung Raya dari wilayah bagian selatan hingga bagian Timur merupakan dataran agak rendah, sedangkan ke arah Utara dengan bentuk daerah berbukit-bukit lipatan, patahan yang dikelilingi oleh hamparan pegunungan Muller/Schwaner.
Apabila dilihat dari tingkat ketinggiannya, maka sebagian besar (72,08%) dari luas wilayah Kabupaten Murung Raya terletak pada ketinggian 500-1.000 meter dari permukaan laut, terutama di daerah Kecamatan Sumber Barito. Kemudian 5,18% terletak pada ketinggian 100-500 meter dari permukaan laut.
Bagian wilayah dengan lereng atau kemiringan 0 - 2 % terdapat di bagian selatan tepi sungai Barito, bagian wilayah dengan kemiringan 2 - 15% tersebar di semua kecamatan seluas 1.785 Km 2 (21,94% ), bagian wilayah dengan kemiringan 15 - 40% tersebar di semua kecamatan seluas 4.275 Km 2 (52,55%) dan wilayah di atas 40% seluas 2.075 Km2 (25,51%).
Secara umum jenis tanah yang dominan terdapat di Kabupaten Murung Raya terdiri dari 3 jenis yaitu : Podsolik seluas 30,17%, Oksisol (Laterik) seluas 61,98% dan Litosol seluas 7,85%. Jenis tanah Podsolik terdapat di Kecamatan Laung Tuhup, Murung, Tanah Siang, Permata Intan dan sedikit di Kecamatan Sumber Barito. Jenis tanah Oksisol (Laterik) banyak ditemukan di Kecamatan Sumber Barito dan sedikit di Kecamatan Tanah Siang. Sedangkan jenis tanah litosol hanya terdapat di Kecamatan Sumber Barito sebanyak 57,69% dari jenis tanah sesuai untuk berbagai penggunaan seperti untuk perkebunan kelapa, kelapa sawit, karet, tanaman pangan, persawahan dan permukiman.
Kabupaten Murung Raya termasuk daerah beriklim tropis yang lembab dan panas, karena secara geografis terletak di garis khatulistiwa dengan curah hujan yang cukup tinggi (berkisar dari 2.500 - 4.000 mm/tahun). Suhu pada siang hari rata-rata 26,5 derajat Celcius, sedangkan pada malam hari rata-rata 23,2 derajat Celcius. Curah hujan rata-rata 2.909 mm/tahun dan kelembaban nisbi (RH) sekitar 85%
Wilayah Kabupaten Murung Raya dilintasi oleh sungai Barito dan beberapa cabang anak sungainya dengan panjang dan kedalaman dasar sungai sangat bervariasi. Sungai-sungai tersebut berfungsi sebagai urat nadi transportasi untuk angkutan barang dan penumpang di sebagian besar wilayah Kabupaten Murung Raya.
Beberapa cabang atau anak sungai yang dapat dilayari yaitu : Sungai Laung sepanjang 35,75 km, Sungai Babuat sepanjang 29,25 km, Sungai joloi sepanjang 40,75 km dan Sungai Busang sepanjang 75,25 km. Kedalaman dasar berkisar antara 3-8 m dan lebar badan sungai lebih dari 25 m.

PENGENDALIAN BANJIR
Sungai Barito sebagai sungai besar yang DAS nya melalui banyak wilayah kabupaten di Kalimantan Tengah dan  Kalimantan Selatan merupakan ancaman banjir yang potensial, oleh karena itu pembangunan dam ini salah satu upaya nyata dalam penanggulangan banjir disepanjang DAS Barito. Pada saat terjadi banjir dengan kala ulang 200 tahun, maka terjadi reduksi debit puncak banjir :
Qi =  7,627.04 m3/det
Qo = 3,690.96 m3/det
Sehingga debit banjir yang tereduksi di waduk Muara Juloi adalah sebesar  3,936.08 m3/det.

IRIGASI
Sungai Barito bagian hulu kurang memegang dalam pelayanan irigasi karena irigasi banyak diambilkan dari anak-anak sungainya
Untuk bagian tengah dan hilir DAS, irigasi sangat tergantung pada tinggi rendahnya muka air sungai Barito karena banyak terdiri dari daerah rawa pasang surut.

AIR BAKU
Kandungan BOD, COD, melebihi batas syarat yang distandarkan dalam kualifikasi kualitas air.

NO
PARAMETER
SATUAN
HASIL ANALISIS
1
Temperatur
°C
26.7
2
Residu Terlarut
mg/L
24
3
Residu Tersuspensi
mg/L
96
4
Kadar Sedimen
mg/L
74
5
pH
-
6.10
6
BOD
mg/L
3.81
7
COD
mg/L
23.2
8
DO
mg/L
4.78
9
Total Fosfat sbg P
mg/L
tt
10
NO3 sbg N
mg/L
0.258
11
NH3-N
mg/L
0.019
12
Kobalt
mg/L
0.008
13
Boron
mg/L
0.035
14
Kadmium
mg/L
tt
15
Khrom (VI)
mg/L
tt
16
Tembaga
mg/L
0.005
17
Besi
mg/L
1.16
18
Timbal
mg/L
tt
19
Mangan
mg/L
0.015
20
Air Raksa
mg/L
tt
21
Seng
mg/L
0.012
22
Khlorida
mg/L
9.18
23
Fluorida
mg/L
KU
24
Nitrit sbg N
mg/L
0.028
25
Sulfat
mg/L
9.24
26
Minyak dan Lemak
µg/L
tt
27
Senyawa fenol sbg fenol
µg/L
tt

NAVIGASI SUNGAI

Kebudayaan sungai merupakan sesuatu yang dikembangkan dan masih dilestarikan oleh masyarakat di Pulau Kalimantan. Salah satu unsur budaya yang terpenting adalah pemanfaatan sungai sebagai prasarana transportasi. Jalur sungai menjadi penting terutama pada saat musim hujan jalan darat tergenang oleh rawa-rawa yang meluap dan sulit dilalui. Sungai barito sebagai sungai dengan mainstream terpanjang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah memegang peranan penting dalam transportasi antar daerah di sepanjang alirannya.

Rute navigasi pada mainstream sungai Barito

Zona
Lokasi
Keterangan
1
Dari Muara sampai dengan Kalanis, Buntok
Dapat dilayari perahu besar walaupun di musim kemarau, kemiringan dasar sungai sangat landai
2
Dari Buntok sampai dengan Muara Teweh
Dapat dilayari perahu besar hanya pada musim penghujan. Kemiringan dasar sungai relatif masih landai
3
Dari Muara Teweh sampai dengan Puruk Cahu
Dapat dilayari oleh perahu kecil (kapasitas 1 ton). Aliran relatif cepat dnegan beberapa jeram
4
Dari Puruk Cahu sampai dengan Muara Juloi
Aliran cukup deras dan banyak jeram tetapi masih dapat dilayari perahu kecil


PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR
Saat ini kondisi kelistrikan di propinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan khususnya masih dalam kondisi kritis. Hal ini disebabkan kurang meratanya karakteristik pelanggan antara rumah tangga dan bisnis, sehingga mengakibatkan tidak seimbangnya kebutuhan masyarakat terhadap daya listrik pada saat beban puncak malam hari, sementara daya listrik yang terpasang ± 260 MW sama dengan beban puncak yang diperlukan pada saat malam hari, sehingga apabila terjadi pemeliharaan rutin terpaksa dilakukan pemadaman bergiliran.


LOKASI BENDUNGAN
Bendungan direncanakan dibangun di Desa Muara Juloi, dengan memanfaatkan sungai Busang yang merupakan anak sungai Barito yang berada di Kecamatan  Sumber Barito/Seribu Riam, Kabupaten  Murung Raya Provinsi Kalimantan Tengah pada koordinat 00o04’34,17”LS dan 114o02’05,05”BT dengan luas Daerah Aliran Sungai 7.975 KM2

KLIMATOLOGI
















DEBIT ANDALAN












KALIBRASI KOEFISIEN TANK










PENGUJIAN PARAMETER KOEFISIEN TANK



















BANJIR RENCANA




















KAPASITAS BENDUNGAN (WADUK)
















DAERAH GENANGAN
















RINGKASAN HASIL PENGEMBANGAN UNTUK PLTA


















DESAIN AWAL

Tinggi bendungan

60,00
m
Elevasi puncak bendungan
El.
160,00
m
FSL
El.
154,00
m
MOL
El.
144,22
m
Elevasi sedimen
El.
124,61
m
TWL
El.
102,50
m
Volume Efektif

734,45
Juta m3
Volume waduk kotor

782,29
Juta m3
Volume waduk mati

47,84
Juta m3
Kapasitas Daya Terpasang

284,00
MW
Maximum plant discharge

726,82
m3/sec
Rated gross head

48,24
m
Rated net head

45,83
m
Annual firm energy

387,41
GWh
Annual secondary energy

817,88
GWh
Annual total energy

1.205,29
GWh
























DIVERSION TUNNEL
















SITUASI BENDUNGAN



















(sumber: Studi Kelayakan dan Rona Lingkungan Awal Bendungan Muara Juloi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar